Forum Bukit Kaba Perkuat Sinergi Moneter dan Fiskal Dukung Ketahanan Ekonomi Dataran Tinggi Bengkulu

oleh -80 Dilihat
Kegiatan Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu bertempat di Hotel Sepanak Kota Curup Rejang Lebong. Foto: ist

Bengkulu,reformasinews.com- Kantpor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyelenggarakan Forum BUKIT KABA 2025 (Bincang Urusan Ekonomi dan Kebijakan Terintegrasi Kajian dan Statistik Terbaru) pada 23 Juli 2025 di Hotel Sepanak Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Forum ini merupakan inisiatif strategis Bank Indonesia untuk memperkuat peran advisory, diseminasi kajian dan data, serta koordinasi lintas otoritas guna mendukung ketahanan dan pertumbuhan ekonomi wilayah dataran tinggi Bengkulu secara berkelanjutan.

Dalam semangat kolaborasi pusat dan daerah, Bank Indonesia menghadirkan narasumber dari Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu.

Forum ini juga dihadiri oleh Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri Thobari, Wakil Bupati Kepahiang, Abdul Hafidz, serta Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, Nurbaiti, yang mewakili Bupati Lebong beserta lebih dari 100 peserta dari organisasi perangkat daerah (OPD), perbankan, pelaku usaha, dan akademisi di wilayah Rejang Lebong dan sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut juga turut hadir Wahyu Yuwana Hidayat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Mohamad Irfan Surya Wardana, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu, dan Win Rizal, Kepala BPS Provinsi Bengkulu menyampaikan advisory strategis mengenai prospek makroekonomi, postur fiskal dan belanja daerah, serta sektor basis dan potensi wilayah.

Selain tiga narasumber utama terdapat juga paparan dari Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri Thobari, Wakil Bupati Kepahiang, Abdul Hafidz, serta Plt. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, Nurbaiti turut memperkaya perspektif daerah dalam merespons tantangan dan peluang pengembangan ekonomi lokal.

Stabilitas ekonomi nasional terus terjaga meskipun di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada triwulan 1 2025, ekonomi nasional tumbuh 4,87% (yoy), sementara Provinsi Bengkulu mencatat pertumbuhan 4,84% (yoy), ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan transportasi.

Wilayah dataran tinggi menjadi penyangga utama ketahanan pangan melalui komoditas unggulan seperti padi, jagung, cabai, bawang, kopi, dan hortikultura lainnya.

Wahyu Yuwana Hidayat menekankan pentingnya sinergi bauran kebijakan antara kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Fokus pembangunan di dataran tinggi Bengkulu.

dapat diarahkan pada dorongan hilirisasi pertanian dan optimalisasi nilai tambah SDA, penguatan infrastruktur konektivitas 3 (tiga) daerah, sinergi forum komunikasi dan koridor ekonomi untuk 3 (tiga) kabupaten, dan pengembangan investasi dan pariwisata terpadu.

Dari sisi fiskal, Mohamad Irfan Surya Wardana menyampaikan pentingnya optimalisasi Transfer ke Daerah (TKD) dan peningkatan efektivitas belanja publik di tiga kabupaten.

Struktur belanja saat ini masih didominasi oleh belanja pegawai dan operasional, sementara serapan belanja modal relatif rendah. Percepatan realisasi belanja modal dan program prioritas seperti DAK Fisik, BOK Puskesmas, serta belanja infrastruktur untuk terus mempercepat pembangunan dan perekonomian daerah.

Secara statistik, Win Rizal, menyampaikan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor basis pada ketiga kabupaten dataran tinggi.

Namun, terdapat kecenderungan menurunnya pangsa pertanian seiring dengan tumbuhnya sektor jasa publik dan perdagangan.

Oleh karena itu, diperlukan peningkatan produktivitas pertanian melalui modernisasi, efisiensi rantai pasok, dan hilirisasi komoditas unggulan.

Muhammad Fikri Thobari, Bupati Rejang Lebong, menyampaikan bahwa Kabupaten Rejang Lebong saat ini menghadapi tantangan ketahanan pangan akibat terjadinya defisit beras sebagai dampak dari alih fungsi lahan.

Meskipun demikian, komoditas pertanian strategis lainnya seperti jagung dan cabai menunjukkan neraca surplus yang positif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong mendorong program cetak sawah baru seluas lebih dari 800 hektar guna meningkatkan ketersediaan pangan dan memperkuat posisi Rejang Lebong sebagai lumbung pangan dataran tinggi.

Abdul Hafidz, Wakil Bupati Kepahiang, menyampaikan bahwa Kabupaten Kepahiang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan pariwisata, dengan komoditas unggulan seperti kopi robusta, teh Kabawetan, serta destinasi alam seperti Danau Suro dan Curug Embun.

Pada triwulan 1 2025, sektor primer berkontribusi lebih dari 47% terhadap total PDRB Kepahiang. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kepahiang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk, promosi agrowisata, serta penguatan kemitraan strategis untuk pengembangan komoditas unggulan dan peningkatan konektivitas wilayah.

Nurbaiti, Pit. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, menekankan strategi pembangunan yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan, dengan fokus pada diversifikasi ekonomi dan optimalisasi APBD untuk penguatan pelayanan dasar serta pembangunan infrastruktur.

Pemerintah Kabupaten Lebong juga mendorong sinergi kebijakan moneter dan fiskal, khususnya dalam memperluas inklusi keuangan, pemberdayaan UMKM, serta percepatan transformasi ekonomi lokal berbasis potensi pertanian dan sumber daya alam unggulan.

Forum ini juga memperkuat koordinasi dalam pengendalian inflasi pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan kerja sama strategis TPID.

Strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) dijalankan untuk menjaga inflasi Provinsi Bengkulu tetap dalam sasaran nasional 2,5±1%.

BUKIT KABA 2025 menjadi ruang dialog multipihak yang mempertemukan perspektif fiskal, moneter, dan statistik dengan kebijakan daerah.

Lebih lanjut, melalui forum ini diharapkan sinergi dan kolaborasi dapat tercipta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah dataran tinggi Provinsi Bengkulu.

Setiap kabupaten memiliki potensi yang berbeda, sehingga perlu untuk mengintegrasikan sektor-sektor unggulan seperti pertanian, pariwisata, dan industri untuk memperkuat daya saing daerah dan memastikan keberlanjutan pembangunan di masa depan.(rl/yrz)