Bengkulu,reformasinews.com- Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Bengkulu menyatakan Sektor Jasa Keuangan di Provinsi Bengkulu sampai posisi Desember 2025 dalam kondisi stabil dan tumbuh dengan kondisi likuiditas yang memadai dalam mendukung pertumbuhan perekonomian daerah di Provinsi Bengkulu di tengah ketidakpastian kondisi global.
Hal tersebut dikatakan Kepala OJK Provinsi Bengkulu Ayu Laksmi Sentya Dewi pada acara Media Update di kantornya, Kamis 5 Maret 2026.
Perkembangan Industri Perbankan
Kinerja industri perbankan tergolong baik, tercermin dari pertumbuhan Aset bank umum yang terdiri dari Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah sebesar Rp 2,1 triliun atau 6,38 persen (yoy) menjadi Rp 35,05 triliun. Pertumbuhan ini didukung dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara tahunan sebesar Rp0,93 triliun atau 5,12 persen menjadi Rp19,14 triliun.
Siaran pers OJK Bengkulu, 5 Maret 2026, penyaluran kredit Bank Umum di Provinsi Bengkulu pada posisi Desember 2025 mencapai Rp31,21 triliun, tumbuh sebesar 5,58 persen (yoy) dengan kualitas kredit yang terjaga dengan rasio NPL/F sebesar 1,55 persen (Desember 2024 1,46 persen).
Dikatakan Ayu, Pertumbuhan kredit di Provinsi Bengkulu, berdasarkan jenis penggunaan, didominasi pertumbuhan pada Kredit Konsumsi sebesar Rp1,18 triliun atau sebesar 7,75 persen (yoy) menjadi Rp16,44 triliun dan Kredit Investasi sebesar Rp691 miliar atau sebesar 12,13 persen menjadi Rp6,39 triliun.

Sedangkan untuk dan Kredit Modal Kerja mengalami penurunan sebesar Rp224 miliar atau sebesar 2,60 persen (yoy) menjadi Rp8,39 triliun. Berdasarkan sektor ekonomi, pertumbuhan kredit didorong penyaluran pada sektor Rumah Tangga sebesar Rp753 miliar atau 7,67 persen (yoy), sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang tumbuh sebesar Rp522 miliar atau 8,17 persen (yoy) dan Bukan Lapangan Usaha Lainnya sebesar Rp430 miliar atau 7,92%,85 persen (yoy).
Penyaluran kredit UMKM di Provinsi Bengkulu telah mencapai sebesar Rp13,69 triliun atau 43,85 persen dari total penyaluran kredit.
Kredit UMKM secara tahunan mengalami pertumbuhan sebesar Rp296 miliar atau sebesar 2,21 persen (yoy) dengan kualitas kredit UMKM yang terjaga dengan rasio NPL/F sebesar 2,03 persen.
Perkembangan kinerja BPR dan BPRS di Provinsi Bengkulu tergolong baik dengan pertumbuhan aset sebesar Rp59,71 miliar atau sebesar 16,17 persen menjadi Rp428,95 miliar.
Pertumbuhan aset ini didukung oleh peningkatan penghimpunan DPK sebesar Rp41,09 miliar atau 17,51 persen (yoy) menjadi Rp275,76 miliar. Sementara itu, penyaluran kredit mengalami pertumbuhan sebesar Rp46,07 miliar atau 16,56 persen menjadi Rp324,33 miliar pada posisi Desember 2025.
Perkembangan Pasar Modal
Menurut Ayu, jumlah investor pasar modal wilayah Provinsi Bengkulu menunjukkan pertumbuhan signifikan. Jumlah investor saham mencapai 48.551 Single Investor Identification (SID), tumbuh sebesar 46,19 persentase (yoy) dari posisi Desember 2024.
Sementara itu, investor reksa dana tercatat 93.400 SID, dengan pertumbuhan sebesar 43,81 persen (yoy).
Sejalan dengan lonjakan SID, nilai transaksi saham juga mengalami peningkatan sebesar 213,41 persen (yoy) menjadi Rp855,09 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp272,83 miliar).
Perkembangan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB)
Total pembiayaan yang disalurkan oleh lembaga pembiayaan di Provinsi Bengkulu sebesar Rp2,89 triliun, menurun 2,15 persen dibandingkan posisi Desember 2024 (Rp2,96 triliun). Secara tahunan rasio Non-Performing Financing (NPF) mengalami kenaikan dari sebesar 3 persen menjadi 3,63 persen.
Untuk Industri Dana Pensiun di Provinsi Bengkulu, pada posisi November 2025, secara tahunan aset tumbuh sebesar 8,72 persen (yoy) menjadi Rp133,65 miliar.
Total investasi meningkat sebesar 8,76 persen (yoy) menjadi Rp131,12 miliar.
Sampai dengan posisi 31 Desember 2025, jumlah Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang berkantor pusat di Provinsi Bengkulu sebanyak 3 (tiga) entitas yaitu 2 LKMS dan 1 Pergadaian.
Perkembangan Edukasi dan Pelindungan Konsumen (EPK)
Dalam rangka melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat serta mendukung pencapaian target inklusi dan literasi keuangan nasional, Kantor OJK Provinsi Bengkulu terus meningkatkan program literasi dan keuangan secara masif melalui kegiatan literasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat di Provinsi Bengkulu.
OJK menginisiasi adanya kolaborasi dan sinergi kegiatan literasi dan inklusi keuangan oleh seluruh Kementerian/Lembaga, PUJK, dan stakeholders terkait melalui pencanangan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN). Kegiatan edukasi ini dilaksanakan pada 10 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2025.
Pada tahun 2025, Kantor OJK Provinsi Bengkulu telah melaksanakan 60 kegiatan edukasi dan literasi keuangan dalam rangka Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan OJK Goes to School/Campus kepada 14.055 orang yang terdiri dari Pelajar, Mahasiswa, Pelaku UMKM, Nelayan, Petani, Disabilitas, Perempuan dan Masyarakat Umum, ASN, dan Pekerja Informal.
Selain itu, Kantor OJK Provinsi Bengkulu telah melaksanakan 13 kegiatan edukasi dan literasi keuangan dalam rangka Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) kepada 1.050 orang yang terdiri dari Pelajar, Mahasiswa, Pelaku UMKM, Perempuan dan Masyarakat Umum.
Ditambahkan Kepala OJK Bengkulu, Ayu Laksmi, selama periode Januari s.d Desember 2025, Kantor OJK Provinsi Bengkulu telah menerima 940 pengaduan melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) dan 612 pengaduan secara walk in dan pemberian informasi/konsultasi.
Dari data APPK, terdapat 382 pengaduan dari Bank Umum Konvensional, 310 pengaduan dari Perusahaan Pembiayaan Konvensional, 203 pengaduan dari Perusahaan Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi, 22 pengaduan dari Asuransi Jiwa, 8 pengaduan dari Bank Umum Syariah, dan 15 pengaduan lainnya.
Pada tahun 2025, Kantor OJK Provinsi Bengkulu telah menerima total 5.716 debitur untuk layanan permintaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) baik secara online dan 5.717 debitur untuk layanan permintaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) baik secara walk in.(r/rzl)

