Beda Awal Puasa 1447 H, Anwar Abbas: Teladani Toleransi Imam Syafi’i dan Abu Hanifah

oleh -38 Dilihat
Ketuà PP Muhammadyah Anwar Abas. Foto; inicom

Reformasinews.com- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk mengedepankan sikap toleransi (tasamuh) dalam menyikapi perbedaan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah. Hal ini disampaikan menyusul adanya sebagian umat Islam yang mulai berpuasa hari ini, Rabu (18/2/2026), sementara sebagian lainnya baru akan memulainya besok, Kamis (19/2/2026).

Anwar menegaskan bahwa perbedaan metode penetapan awal bulan, baik melalui hisab (perhitungan astronomis) maupun rukyah (pengamatan hilal), adalah dua jalan yang sama-sama dibenarkan dan diterima oleh syariat Islam. Oleh karena itu, ia meminta agar perbedaan waktu satu hari ini tidak menjadi alasan perpecahan.

“Mengingat di antara kita sekarang ini terdapat perbedaan pendapat terkait awal Ramadan tahun 1447 H, maka kita berharap agar masing-masing pihak dapat meniru sikap tasamuh dan toleransi dari para imam mazhab. Jangan ada yang memaksakan ni pendapatnya kepada pihak lain,” ujar Anwar Abbas dalam keterangan tertulisnya kepada inilah.com, Rabu (18/2/2026).

Belajar dari Imam Syafi’i dan Abu Hanifah

Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan ini mengingatkan kembali sejarah kebijaksanaan empat imam mazhab besar—Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Menurut Anwar, meskipun mereka memiliki pandangan fikih yang berbeda dan melahirkan pengikut yang besar di berbagai belahan dunia, mereka selalu menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah.

Anwar mencontohkan kisah masyhur antara Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. Diketahui, Imam Syafi’i berpendapat membaca doa Qunut saat salat Subuh adalah sunah, sedangkan Imam Abu Hanifah tidak. Namun, saat Imam Syafi’i berziarah ke dekat makam Imam Abu Hanifah di Baghdad, ia memilih tidak membaca Qunut.

“Ketika Imam Syafi’i ditanya mengapa beliau tidak Qunut, beliau menjawab: ‘Saya menghormati Imam Abu Hanifah’,” tutur Anwar mengutip kisah tersebut.

Contoh keteladanan lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Meski kerap berbeda pendapat dalam masalah fikih dengan gurunya, Imam Syafi’i, Imam Ahmad menyatakan selalu mendoakan sang guru dalam salatnya selama empat puluh tahun.

Perbedaan sebagai Rahmat

Lebih lanjut, Anwar menekankan bahwa para ulama terdahulu memandang perbedaan pendapat bukan sebagai bencana, melainkan rahmat. Sikap saling menghormati inilah yang menurutnya perlu dikembangkan saat ini untuk menjaga ketertiban sosial.

“Mari kita kembangkan sikap saling hormat-menghormati di antara kita. Dengan cara seperti itulah kita dapat menegakkan ketertiban, ukhuwah islamiyah, serta persatuan dan kesatuan yang baik dan kuat,” pungkasnya.*