Catatan : yusrizal
Memasuki setahun menjabat walikota dan wakil walikota Bengkulu periode 2025-2030, Dedy Wahyudi dan Roni Tobing terus berjalan.
Sesuai dengan visi dan misinya, Dedy dan Roni yang menerima mandat dari warganya pada Pilwakot, warga pun akan menagih janji politik.
Usai dilantik oleh Presiden Prabowo bersama para gubernur, bupati dan walikota se Indonesia di istana negara berberapa waktu lalu, Dedy pun gasfull untuk menerapkan janjinya.
Pertama, yang dilakukan Walikota Dedy dan Wakilnya Roni Tobing penanganan kawasan Pantai Panjang, Pantai Jakat dan Objekwisata lain yang ada di Kota Bengkulu.
Penanaman Pohon Kelapa
Untuk menjaga abrasi pantai, Dedy pun mengajak semua stokholder dan masyarakat untuk menaman pohon kelapa. Satu OPD atau dinas/ instansi termasuk vertikal diminta menanam satu batang pohon dipinggir pantai.
Program tersebut usai dilaksanakan. Pohon kelapa yang ditanam tumbuh walau pun ada yang mati. Juga ada tangan jahil yang mencabut pohon kelapa yang ditanam di pantai ikon nya Bengkulu tersebut.
Dedy pun kecewa. Tapi dia tidak marah. Cuma menghimbau warga kota Bengkulu turut merawat kelapa yang ditanam itu.
Penertiban Pondok Jualan
Program kedua yang diterapkan Dedy membingkar warung atau pondok penjual makanan dan minuman yang berada di kawasan pantai panjang.
Warung warung ini selain semerawut, juga pemiliknya sering cekcok dan ribut dengan para pengunjung. Alasan ribut, wisatawan yang duduk di pondok mereka dipaksa pesan makanan.
Pengunjung juga kecewa cuma hanya duduk diminta bayar, kecuali pesan makanan. Kasus ini pun viral di jagat diplatform medsos.
Akibat kasus tersebut viral, pemilik warung dipanggil Dinas Pariwisata Kora Bengkulu. Pemilik warung minta maaf atas perlakuan yang telah membuat heboh Kota Bengkulu. Pemilik warung berjanji akan ikut aturan tak lagi mengulangi perbuatannya yang mencoreng dunia pariwisata kota Bengkulu.
Berulang Lagi
Masalah warung pojok di kawasan pantai terulang lagi, tapi kali ini terjadi di Pantai Jakat diujung Pantai Panjang.
Ribut dan cekcok lagi. Pemilik pemandian bilas di Pantai Jakat tersebut cekcok mulut dengan pengunjung. Heboh viral lagi beragam komen negatif nitizen penuhi beranda medsos.
Ribuan komen di medsos memberi kesan negatif kepada pelaku. Si ibu saat marah joget joget yang menampakan punggungnya, akhirnya dipanggil Dinas Pariwisata Kota Bengkulu.
Saat dipanggil Dinas pariwisata mengakui tidak lagi melakukan hal serupa terhadap para pengunjung ataupun wisatawan yang melancong ke Pantai Jakat di area kawasan Pasar Bengkulu ini.
Walikota Dedy serius untuk menata objekwisata Pantai agar terlihat nyaman dan bersih. Pihaknya pun rambate ratahayu berkolaborasi dengan TNI,Polri serta instansi vertikal pun untuk sama- sama bersinergi membersihkan dan menata kawasan pantai menjadi tujuan wisata andalan di Bengkulu ini.
Hasilnya Sukses dan Bersih
Untuk menjadikan kawasan Objekwisata Pantai, Dedy pun membangun beberapa unit gazebo percontohan atau tempat santai para pengunjung gratis duduk tanpa bayar. Bangunan ini untuk mengantikan warung atau pondok yang dibuat warga yang sering jadi keributan dengan pengunjung.
Siapapun yang duduk di gazebo ini tidak bayar. Bangunan perdana ini cuma contoh. Nanti akan dibangun lagi ratusan gazebo yang sedang dianggarkan dananya pada tahun 2026 ini. Itu penegasan Walikota Dedy Wahyudi.
Tertipkan PKL Langgar Aturan
Kinerja walikota tidak hanya menata kawasan Objekwisata Pantai. Episode lanjutan, Walikota Dedy pun menata para pedagang kaki lima(PKL) yang melanggar Perda berjualan di trotoar dan badan jalan.
Ekseskusi pertama berawal di Jalan KZ Abidin 1 dan KZ Abidin 2. Para petugas Satpol PP sebelum menertibkan dan membongkar ratusan lapak PKL di area tersebut, karena telah berulang kali dihimbau atau diingatkan oleh Satpol PP, namun PKL membandel.
PKL pun ngamuk, marah caci maki Satpol PP membongkar dan mengangkut lapak mereka. Kemarahan tersebut didominasi pedagang ikan, pedagang ayam dan sayur mayur. PKL disuruh masuk pasar gratis tidak bayar, lagi lagi mereka ngaku jualan di dalam Pasar Tradisional Modren( PTM) Mega Mall sepi pembeli. Itu alasan pedagang.
Mereka(PKL) beralasan cuma cari makan untuk biaya anak sekolah. Tapi mereka tidak mematuhi aturan. Apapun alasan mereka itu tentu salah karena berjualan di area yang menggangu ruang publik.
Pemerintah bukan melarang pedagang cari rezeki, tapi ada tempatnya. Ya masuk ke pasar, begitu tegas Kasatpol PP Kota Bengkulu,Sahat Situmorang di hadapan para PKL.
Demikian juga penertiban PKL di kawasan Pasar Panorama Lingkar Timur Kota Bengkulu. PKL di Jalan Belimbing,Jalan Kedondong, Jalan Semangka dan Jalan Salak Raya pun lapak mereka terkena gusuran.
Satpol PP sebagai penegak Perda bertindak. Ratusan lapak dibongkar dan dimasukan kedalam mobil. Penertiban di Jalan Salak Raya kondusif, para PKL membongkar sendiri kios mereka.
Kondisi penertiban di Jalan Semangka agak ekstrim. Para pedagang ayam yang mengunakan kendaraan pickup mangkal dibahu jalan marah, ngamuk ketika ditertibkan Satpol PP.
Saat ribut ada ancaman bagi petugas yang dilontarkan oleh seorang oknum pedagang akan membunuh petugas. Kasapol PP, Sahat pun beraksi akan melaporkan kepada polisi adanya ancaman kepada pihaknya.
Delematis Pembuangan Sampah
Kemarin kantor Walikota jadi viral. Tumpukan sampah berserakan dibuang oleh oknum sopir yang bertugas membuang sampah asal rumahan warga.
Seharusnya pembuangan sampah itu di TPA di Air Sebakul. Alasan mereka singkat. Jalan menuju TPA tidak bisa dilewati kendaraan, karena rusak disamping itu sudah over kapasitas tak mampuh lagi menampung sampah.
Wawali Kota Bengkulu geram, ini pelanggaran dan Pemkot akan bertindak tegas terhadap oknum sopir yang mengotori kantor pemerintah.
Walikota Dedy yang kemarin sedang di Jakarta berkomentar. Ia akan membenahi TPA Air Sebakul. Kini anggarannya sedang dibahas. Gitu kata Dedy melalui vidionya.
Dedy juga sangat menyangkan atas tindakan sopir pengangkut sampah yang mengotori halaman kantor Pemkot Bengkulu. Oknum pengangkut sampah itu harusnya menahan diri. Kata Dedy, Pemkot Bengkulu sedang fokus menata TPA Air Sebakul, dan tentu butuh waktu pelaksanaannya.
Penutup
Pemkot Bengkulu melalui Satpol PP telah berulang kali memberikan himbauan dan mengingatkan agar para PKL tidak berjualan di trotoar, bahu jalan dan melanggar garis sepadan jalan. Namun himbauan tersebut tidak digubris oleh PKL.
Pantauan reformasinews.com pasca penertiban yang menjadi target Satpol PP di beberapa titik, kini sudah terlihat rapih, bersih dan nyaman.* Wss
Penulis wartawan senior/ Pemred Reformasinews.com

